Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 28 September 2019

TEORI KOGNITIF MULTIMEDIA PEMBELAJARAN


TEORI KOGNITIF MULTIMEDIA PEMBELAJARAN

Pembelajaran multimedia adalah pembelajaran teori kognitif yang telah dipopulerkan oleh Richard E. Mayer dan lainnya.
Teori belajar kognitif adalah teori pemrosesan informasi. Teori kognitif memberikan kerangka umum bagi desainer pembelajaran dalam mengontrol kondisi belajar pada suatu lingkungan atau material pembelajaran. Secara khusus, teori ini memberikan basis acuan empiris yang membantu desainer pembelajaran untuk mengurangi beban kognitif selama belajar. Dalam pembelajaran multimedia, teori belajar kognitif merupakan landasan dari pengembangan multimedia.
Penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa dan menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna. Pembelajaran yang bermakna didefinisikan sebagai pemahaman yang mendalam mengenai suatu materi, proses pengaturan mental yang dikaitkan secara masuk akal dengan struktur kognitif dan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada. Pembelajaran bermakna menggambarkan kemampuan seseorang untuk menerapkan pengetahuan yang sudah diketahui pada situasi dan kondisi yang nyata, baru dan berbeda.
Pembelajaran menggunakan multimedia merupakan pembelajaran menggunakan media langsung yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dilihat tanpa harus ke tempat kejadian. Contohnya pembelajaran geografi tentang proses terjadinya gunung meletus, jika kita pelajari dengan melihat langsung ke tempat kejadian akan membutuhkan tenaga dan proses yang panjang serta membahayakan. Dengan adanya pembelajaran menggunakan multimedia, proses terjadinya gunung meletus dapat dilihat hanya dari dalam kelas dengan keadaan sesungguhnya tetapi sudah dirancang dengan baik sehingga tidak mebutuhkan proses yang lama dan tidak membahayakan bagi peserta didik. Informasi materi pembelajaran juga lebih mudah ditangkap oleh kognisi siswa hanya lewat multimedia.
Kondisi adanya interaksi antara multimedia dan proses kognitif selama proses pembelajaran berlangsung dikenal dengan model teori kognitif multimedia pembelajaran yang dikembangkan oleh Mayer, model tersebut ditampilkan pada gambar berikut :
 
 
Seperti yang terlihat pada gambar, Mayer (2004) mengemukakan  teori  pembelajaran dengan berdasarkan tiga asumsi, yakni: 
1.  Asumsi dua saluran, yang menyatakan bahwa manusia menggunakan aluran pemrosesan informasi terpisah yakni untuk informasi yang disajikan secara visual dan informasi yang disajikan secara auditif. Pemrosesan informasi terjadi dalam tiga tahap. Pertama, informasi memasuki sistem pemrosesan informasi baik melalui saluran visual maupun melalui saluran auditif. Kedua, informasi-informasi ini kemudian diproses secara terpisah tetapi bersamaan di dalam memori kerja (working memory), di mana isyarat tutur ( speech) yang bersifat auditif maupun gambar (termasuk di dalamnya video) dipilih dan ditata. Kemudian, tahap ketiga, informasi dari kedua saluran tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.
2.     Asumsi keterbatasan kapasitas, yang menyatakan adanya keterbatasan kemampuan manusia memproses informasi dalam setiap kanal pada satu waktu. Dalam satu sesi presentasi, audiens hanya bisa menyimpan beberapa informasi visual (gambar, video, diagram, dan sebagainya) dan beberapa informasi tutur (auditif ). Asumsi inilah yang mendasari riset dan teori yang disebut teori beban kognitif (cognitive load theory). Meskipun  beban maksimal tiap individu bervariasi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa rata-rata manusia hanya mampu menyimpan 5-7 ‘potongan’ informasi saja pada satu saat.
3.  Asumsi pemprosesan aktif, yang menyatakan bahwa manusia secara aktif melakukan pemprosesan kognitif untuk mengkonstruksi gambaran mental dari pengalaman-pengalamannya. Manusia tidak seperti taperecorder  yang secara  pasif merekam informasi melainkan secara terus-menerus memilih, menata, dan mengintegrasikan informasi dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Hasilnya adalah terciptanya model mental dari informasi yang tersajikan. Ada tiga proses utama untuk pembelajaran secara aktif ini, yakni: pemilihan bahan atau materi yang relevan, penataan materi-materi terpilih, dan pengintegrasian materi-materi tersebut ke dalam struktur pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Proses ini terjadi di dalam memori kerja yang terbatas kapasitasnya.
Pembelajaran Multimedia terjadi ketika membangun perwakilan mental dari kata dan gambar.
   Multimedia didefinisikan sebagai penyampaian informasi secara interaktif dan terintegrasi yang mencakup teks, gambar, suara, video atau animasi. Pada teori kognitif pembelajaran multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para desainer multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa.
Mayer (2003) mengemukakan bahwa ada beberapa prinsip multimedia, yaitu:
1.      Multimedia principle, merupakan teori yang dipelajari secara mendalam oleh Richard Mayer. Mayer mengatakan bahwasanya prinsip ini menyatakan, gabungan kata-kata (words) dan gambar lebih kondusif digunakan untuk pembelajaran, jika dibandingkan dengan yang terdiri atas teks ataupun gambar saja. Hasil studi menunjukkan bahwa peserta didik tidak terlibat lebih mendalam dalam pembelajaran ketika pembelajaran tersebut hanya terdiri atas teks saja, hal itu tidak akan menghubungkan antara apa yang mereka baca pada teks dengan pengetahuan baru ataupun yang sudah ada sebelumnya.
2.      Contiguity principle, secara sederhana prinsip ini diartikan sebagai mendekatkan (align) teks dengan grafik yang sesuai. Hal ini berarti, subjek utama secara fisik tidak boleh terpisah dari teksnya. Prinsip contiguity ini secara tidak langsung menyatakan, bahwa tidak hanya teks yang perlu disesuaikan, tetapi juga audio harus disesuaikan dengan grafik yang terkait. Satu contoh adalah ketika pada sebuah grafik terdapat diagram, maka teks secara fisik harus diletakkan di dekat bagian-bagian dari diagram.

 
Gambar di atas telah menggunakan prinsip contiguity, karena label-label yang menyatakan bagian-bagian dari otak secara fisik diletakkan dekat dengan bagian otak yang dijelaskan oleh label-label tersebut.
3.    Modality principle, prinsip ini adalah lebih banyak menampilkan narasi (perkataan) lebih baik daripada teks yang ditampilkan pada layar (on-screen text). Peserta didik akan melakukan pembelajaran dengan lebih baik ketika informasi baru yang ada dijelaskan menggunakan narasi audio, terlebih jika grafik yang ditampilkan sangat kompleks, kata-kata yang dinarasikan terdengar familiar, dan pembelajaran berjalan dengan cepat. Sangat penting untuk dicatat bahwa prinsip modality akan semakin terasa manfaatnya ketika materi pembelajaran begitu kompleks bagi peserta didik.
4.   Redudancy principle, pada skenario pembelajaran multimedia, kita banyak melihat adanya teks dan audio yang dijalankan secara simultan. Prinsip redudansi menyatakan bahwasanya para peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan lebih baik jika hanya ada animasi dan narasi. Informasi teks yang ditampilkan secara visual menjadi materi yang redundan. Mengeliminasi materi-materi yang bersifat redundan, menghilangkan narasi dan teks yang bersifat identik merupakan cara yang tepat agar peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan baik. Alasannya adalah orang-orang tidak bisa fokus jika mendengar dan melihat pesan verbal secara bersamaan selama presentasi pembelajaran.
5.  Coherence principle, salah satu kesalahan yang umum dilakukan ketika pengembang e-learning merancang proyek atau coursea dalah menggunakan latar belakang musik, konten dan grafik on-screen yang tidak relevan, yang tidak ada kaitannya sama sekali. Menurut Clark dan Mayer (2011) dalam buku: “E-learning and the Science of Instruction”, prinsip coherence dinyatakan sebagai: semua informasi yang tidak dibutuhkan dalam penyampaian multimedia harus dieliminir seperti suara, gambar, kata-kata karena bisa mengganggu peserta didik. Menambahkan materi yang menarik namun tidak relevan dengan e-learning bisa membingungkan para pengguna.
6.  Personalization principle, prinsip ini menggunakan gaya yang bersifat konversasional (percakapan) dan virtual coaches. Prinsip ini melibatkan peserta didik dengan cara menyajikan konten dengan nada percakapan dalam rangka untuk meningkatkan pembelajaran. Clark dan Mayer (2003) juga menemukan bahwasanya penggunakan agen pedagogikal bisa membantu peserta didik untuk fokus pada pembelajaran yang diberikan. Kita harus menggunakan percakapan bukan tulisan formal dalam pembelajaran sehingga peserta didik bisa berinteraksi dengan komputer seperti halnya interaksi antara manusia dengan manusia (human-to-human conversations). Karakter tersebut bisa bertindak sebagai partner untuk berdialog dengan mereka.
7. Segmenting principle, segmentasi merupakan prinsip yang sangat sederhana, dimana kita hanya membagi segmen yang lebih luas menjadi segmen-segmen yang lebih kecil. Cara yang umum digunakan pada materi yang disegmentasi ini adalah dengan cara memainkan tombol “Continue” pada masing-masing frame pada setiap slide. Hal ini bisa bermanfaat untuk, pertama: bisa membantu peserta didik untuk berpindah dari satu slide ke slide lainnya sesuai dengan seleranya masing-masing dan kedua mereka bisa mencerna informasi yang ada sesuai dengan kecepatan (berpindah dari satu slide ke slide lainnya) untuk bekerja dengan lebih baik. Menurut Clark dan Mayer (2011), rasional dari menggunakan segmentasi adalah bisa memberikan manfaat kepada peserta didik untuk mencerna informasi tanpa harus meng-overload sistem kognitif.
8. Pre-training principle, secara umum prinsip pre-training bermakna pengguna mengetahui nama dan karakteristik dari konsep kunci (key concept) sebelum mereka mempelajari sesuatu. Prinsip ini relevan dengan situasi ketika pengguna mencoba memproses materi esensial dalam pembelajaran namun mereka kewalahan, karena mungkin materi yang begitu kompleks. Pre-training bisa membantu pengguna, khususnya bagi para pemula, dalam hal mengurangi waktu untuk mempelajari beberapa pengetahuan dan membantu mereka untuk mengelola beberapa materi yang bersifat kompleks. Key concept diidentifikasi, kemudian dijelaskan di bagian awal pembelajaran. Pre-training bisa mempermudah pemula untuk memahami konsep dan keahlian tertentu.

     Secara umum, teori kognitif mencoba untuk mengatasi masalah bagaimana menyusun praktik pembelajaran multimedia dan menggunakan strategi kognitif yang lebih efektif untuk membantu orang belajar secara efisien.
 Teori belajar kognitif mengungkapkan bagaimana kita memperoleh pengetahuan, bagaimana pengetahuan tesebut disimpan dan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan. Teori kognitif banyak memusatkan perhatian pada konsepsi bahwa perolehan dan retensi pengetahuan baru merupakan fungsi dari struktur kognitif yang dimiliki siswa. Cara menyusun praktik pembelajaran multimedia dan menggunakan strategi kognitif yang lebih efektif untuk membantu orang belajar secara efisien adalah dengan memperhatikan prinsip-prinsip multimedia saat merancang multimedia pembelajaran. Implikasi dari prinsip-prinsip di atas terhadap media pembelajaran berbasis komputer adalah 1) pengembangan media pembelajaran berbasis komputer disesuaikan dengan proses internal, yaitu menarik perhatian siswa, menginformasikan kepada siswa tujuan pembelajara, pengaktifan kembali pengetahuan awal, menyajikan stimulus dengan cara berbeda, mengarahkan belajar, memperoleh kinerja yang diharapkan, memberi umpan balik yang informatif, menilai kinerja, meningkatkan daya ingat dan transfer belajar; 2) individualisasi; 3) membuat media pembelajaran berbasis komputer interaktif; 4) menggunakan umpan balik secara efektif; 5) menjamin keberhasilan; 6) kesesuaian antara tujuan, pembelajaran dan penilaian; 7) memungkinkan kontrol pembelajaran oleh siswa; 8) menghitung, mengawasi dan mengevaluasi pertimbangan yang efektif; 9) melakukan evaluasi berdasarkan tujuan, sikap dan kecukupan program; 10) mendesain layar dengan cermat; 11) menggunakan media tambahan dengan tepat.
Desain multimedia pembelajaran adalah membuat spesifikasi secara rinci mengenai arsitektur, gaya dan kebutuhan materi untuk suatu produk media pembelajaran. Spesifikasi dibuat cukup rinci sehingga pada tahap berikutnya, yaitu pada tahap material collecting dan assembly tidak diperlukan keputusan baru tetapi menggunakan apa yang sudah ditentukan pada tahap desain. Tahap desain merupakan hal yang sangat penting sebelum melakukan proses produksi. Proses produkasi baru dilakukan apabila desain antar muka dan seluruh aspek isi telah selesai. Desain visual merupakan elemen penting dalam multimedia pembelajaran, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merancang desain visual, adalah: 1) kejelasan tampilan visual, 2) energi yang diperlukan untuk menginterprestasikan pesan, 3) keterlibatan keaktifan siswa dalam belajar, dan 4) fokus perhatian pada bagian penting dari pesan.

Daftar Rujukan
Clarck, Ruth C., & Mayer, Richard E. 2003. E-learning and the Science of Instruction. San Fransisco: Jossey-Bass/Pfeiffler.
Mayer, R.E. 2004. Should thre be a three-strikes rule againts pure discovery learning? The case for guided method of instruction. American Phychologist. 59 (1).14-19.

Sudatha, I. G. W & I Made Tegeh. 2015. Desain Multimedia Pembelajaran. Singaraja: Media Akademi.

Sabtu, 14 September 2019

The cognitive theory of multimedia learning

           Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium artinya perantara atau pengantar. Media adalah segala alat fisik yang dapat digunakan untuk merangsang, menyalurkan, atau menyampaikan untuk belajar. Faktor pemilihan media; (a) ketersediaan sember setempat; (b) ketersediaan dana,tenaga dan fasilitas untuk membeli atau membuat media; (c) faktor keluwesan, kepraktisan dan ketahanan media bersangkutan untuk waktu yang lama; (d) efektifitas biaya dalam jangka waktu panjang; (e) ketepatan dengan tujuan pengajaran; (f) mendukung bahan pelajaran; (g) kemudahan memperoleh media; (h) keterampilan guru menggunakan media; (i) ketersediaan waktu untuk menggunakan media; (j) sesuai dengan taraf berfikir siswa.
            Secara umum media pengajaran mempunyai kegunaan sebagai berikut: (a) memperjelas penyajian pesan; (b) mengatasi keterbatasan rungan, waktu dan daya indra; (c) penggunaan media pengajaran secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Media pengajaran mempunyai fungsi sebagau berikut: menyampaikan informasi, mengulang pelajaran, merangsang belajar, mengaktifkan respon, memberikan latihan, memperjelas informasi, melengkapi dan memperkaya informasi, meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyampaian informasi, menambah variasi penyampaian informasi, dan mengatasi keterbatasan waktu.
            Kemp dan Dayton (1985) mengelompokan media ke dalam delapan jenis yaitu:
1.      Media Cetak
Media cetak meliputi bahan-bahan yang disiapkan di atas kertasuntuk proses pengajaran dan bahan informasi. Media cetak terdiri dari buku ajar, lembaran penuntun berupa langkah-langkah mengoperasikan  suatu alat. Lembaran ini biasanya berisi gambar dan sampingnya teks penjelasnya. Bentuk media cetak lainnya adalah browsur dan newsletter. Browsur merupakan pengumuman atau pemberitahuan mengenai suatu program atau pelayanan, sedangkan newsletter berisi lapotan kegiatan suatu organisasi. Jenis media yang sering digunakan adalah teks terprogram dengan penyajian informasi yang terkendali artinya siswa dapat melihat dan membaca teks yang diinginkan langkah demi langkah.
Kelebihan media cetak antara lain adalah: siswa dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing individu, siswa dapat mengikuti urutan pikiran yang logis dan dapat mengulangi materi yang ada, perpaduan teks dan gambar dapat menjadi daya tarik bagi siswa untuk belajar, khusus pada teks terprogram siswa dapat berpartisipasi dan berinteraksi dengan cepat dan aktif karena dilengkapi dengan pertanyaan dan latihan.
2.      Media Panjang
Media panjang pada umumnya digunakan untuk menyampaikan informasi dalam kelompok kecil. Bentuknya sederhana dan mudah dipindahkan kemana-mana. Terdiri dari papan tulis, flip chart, papan magnet, papaan kain, papan buletin dan papan pameran. Papan tulis lazim digunakan baik di desa maupun di kota. Flip chart menguntungkan untuk informasi visul. Papan magnet terdiri dari permukaan baja tipis yang dilapisi magnet, objek dan informasi yang akan disajikan di atas karton yang di belakangnya terdapat magnet kecil untuk ditempelkan ke papan magnet dan mudah di pindah sesuai kebutuhan. Papan buletin berfungsi seperti papn magnet tetapi dapat pula menampilkan visual tiga dimensi, biasanya ditempatkan di lokasi yang dapat menarik perhatian siswa yang lewat sehingga dapat singgah dan membacanya.
Kelebihan dari media panjang antara lain adalah: bermanfaat di ruang manapun, fleksibel untuk membuat perubahan yang diinginkan, mudah diperiksa dan digunakan, papan tulis selalu tersedia di kelas. Kelemahannya: terbatas pada kelompok kecil, memerlukan keahlian khusus dalam penyajianya, anggapan media pamer tidak terlalu penting bila dibandingkan dengan media yang diproyeksikan, dan guru membelakangi siswa saat menulis.
3.      OHP atau Proyeksi Tranparansi
Tranparansi yang diproyeksikan adalah media visual baik berupa gambar, huruf, lambang, grafik. Media ini mampu memperbesar dan memperkecil gambar atau tulisan yang ditampilkan dilayar sehingga dapat mencakup kelompok kecil maupun besar.
Kelebihannya: (1) pantulan proyeksi dapat dilihat dengan jelas pada rungan yang terang; (2) dapat menjangkau kelompok kecil maupun besar; (3) guru dapat selalu bertatap muka; (4) guru dapat membuat sendiri transparansinya; (5) peralatan mudah diproyeksikan; (6) memiliki kemampuan menampilkan warna; (7) dapat disimpan dan digunakan secara berulang kali; (8) dapat dijadikan pedoman dan penuntun bagi guru dalam penyampaian materi. Kelemahannya: OHP harus tersedia sementara tidak semua sekolah mampu membelinya dan harus ada listrik di ruang kelas.
Ada beberapa model OHP tetapi pada dasarnya memiliki fungsi yang sama. Bedanya pada variasi dan kelengkapan. Umumnya yang sering digunakan adalah yang segi empat dengan konstruksi lampu, kipas pendingin dan reflektor. Yang lain bedanya berbentuk ramping dan tidak dilengkapi kipas.
4.      Rekaman Audio-Tape
Pesan dan materi pelajaran dapat disajikan dalam bentuk remakan dan dapat diputar kembali. Mareti rekaman ini dappat digunakan kelompok kecil maupun kelompok besar. Sudjana dan Rivai (1991:130) mengemukakan hubungan antara media audio dengan pengembangan keterampilan anak didik yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan mendengarkan. Keterampilan yang dapat dicapai dengan penggunaan media ini adalah: (1) pemusatan perhatian dan mempertahankan perhatian; (2) mengikuti pengarahan; (3) melatih daya analisis; (4) menentukan arti dari konteks; (5) memilih informasi yang relevan dan tidak; (6) merangkum, mengemukakan kembali atau mengingat kembali informasi.
5.      Televisi
Televisi adalah perlengkapan elektronik yang pada dasarnya sama dengan gambar hidup yang meliputi gambar dan suara. Ada dua jenis pengiriman dan penyiaran gambar dan suara, yaitu penyiaran langsung di tempat kejadian dan penyiaran yang telah direkam di atas pita film atau pita video. Televisi pendidikan adalah penggunaan program video yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu tanpa melihat siapa yang menyiarkan.
Kelebihannya: (1) televisi dapat memancarkan berbagai jenis bahan audio visual termasuk gambar diam, film objek, dan drama; (2) dapat menyajikan model dan contoh-contoh yang baik bagi siswa; (3) dapat membawa dunia nyata kerumah dan kelas-kelas; (4) memberikan peluang kepada siswa untuk melihat dan mendengarkan diri sendiri; (5) menyajikan program-program yang dapat dipahami oleh siswa dari tingkat usia dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda; (6) menyajikan visual dan suara yang sulit diperoleh didunia nyata; (7) menghemat waktu guru dan siswa. Kelemhannya: (1) pemirsa atau pendengar bersifat pasif; (2) televisi pada saat disiarkan akan berjalan terus; (3) guru tidak memilki kemampuan untuk merevisi film sebelum disiarkan; (4) layar televisi tidak dapat menjangkau kelas besar; (5) kekhawatiran muncul bahwa siswa tidak memilki hubungan pribadi dengan guru.
6.      Slide
Slide adalah suatu film transparansi yang berukuran 35 mm dengan bingkai 2x2 inci. Bingkai tersebut terbuat dari karton atau plastik. Film bingkai diproyeksikan melalui slide proyektor. Jumlah bingkai disesuaikan dengan jumlah materi pelajaran. Lama penyajian berdasarkan banyaknya program yang dibuat guru. Program kombinasi film bingkai bersuara pada umumnya berkisar antara 10 sampai 30 menit dengan jumlah gambar yang bervariasi antara 10 sampai 100 buah gambar atau lebih.
Kelebihannya: (1) urutan gambar dapat diubah; (2) isi pelajaran sama dalam gambar fim bingkai dapat diputar di berbagai temapat dalam waktu yang sama; (3) gambar dapat ditayangkan dalam waktu yang lama; (4) dapat ditayangkan di ruang yang terang; (5) dapat menyajikan gambar dan grafik; (6) fil dapat diputar sendiri atau digabung dengan suara; (7) dapat menyajikan peristiwa lalu atau di tempat lain. Kelemahannya: (1) gambar dan grafik tidak dapat bergerak; (2) film bingkai terlepas-lepas; (3) meski biaya proyeksi tidak terlalu mahal, film bingkai memerlukan biaya yang besar dari pada pembuatan media foto, gambar, grafik yang tidak diproyeksikan.
7.      Film dan Video
Film bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinu. Begitu juga dalam video dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara alamiah. Film dan video memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan dengan media yang lainnya. Dengan media ini dapat digunakan sebagai media hiburan, dokumentasi, dan pendidikan. Mereka dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep rumit dan dapat mempengaruhi sikap para siswa.
Keuntungannya: (1) film dapat menambah pengalaman; (2) dapat menggambarkan suatu proses secara tepat yang dapat disajikan secara berulang-ulang; (3) dapat mendorong dan meningkatkan motivasi belajr siswa; (4) mengandung nilai-nilai yang positif; (5) dapat menyajikan peristiwa yang berbahaya bila dilihat secara langsung; (6) dapat digunakan dalam kelompok besar maupun kecil; (7) menyajian dapat dipercepat. Keterbatasan: memerlukan biaya mahal dan memakan waktu cukup panjang; (2) gambar bergerak secara terus menerus sehingga siswa kurang dapat mencermati; (3) tidak selalu sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar.
8.      Komputer
Komputer adalah mesin yang dirancang khusus untuk manipulasi yang diberi kode, mesin elektronik yang otomatis melakukan pekerjaan dan perhitungan sederhana maupun rumit. Satu unit komputer terdiri atas empat komponen: input (kayboard), prosesor (CPU), penyimpanan data (RAM), dan output (monitor).
Kelebihannya: (1) dapat mengakomondasi siswa yang lamban dalam menerima pelajaran; (2) merangsang siswa untuk mengerjakan latihan, melakukan pekerjaan laboratorium atau setimulasi; (3) kendali ditangan siswa; (4) kemampuan merekam aktifitas siswa sehingga dapat memantau perkembangan siswa; (5) dapat berhubungan dengan alat lain. Keterbatasan: (1) perangkat lunaknya masih mahal; (2) untuk menjalankan komputer perlu keahlian khusus; (3) keragaman model sehingga membuat tidak cocok dengan lain; (4) program yang tersedia belum memperhitungkan kreativitas siswa; (5) efektif hanya untuk satu siswa.

Pengaruh lingkungan dalam psikologi terhadap peserta didik dan Usaha Mengatasi Dampak Negatif dari Lingkungan dalam psikologi terhadap peserta didik.

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada hakikatnya manusia dan lingkungan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Manusia telah mengambil banyak manfaat dari lingkungan seperti tempat tinggal yang nyaman, tempat bekerja, tempat berekreasi dan lain-lain. Keseimbangan antara keduanya sangat penting untuk dijaga.
Lingkungan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Salah satunya faktor eksternal. Faktor eksternal terdiri dari 2 macam yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial. Lingkungan sosial terbentuk dari lingkungan keluarga, guru, dan masyarakat. Sedangkan lingkungan nonsosial terbentuk dari sarana dan prasarana. Anak belajar untuk menjalani kehidupan melalui interaksi dengan lingkungan. Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar adalah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Dari keluarga inilah baik dan buruknya perilaku dan kepribadian anak terbentuk. Lingkungan yang kedua setelah lingkungan keluarga di kenal anak adalah sekolah.
Sekolah mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kepribadian anak didik. Di sekolah siswa melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai keberhasilan belajar.  Perilaku siswa yang mengganggu proses belajar mengajar tersebut perilakunya menyimpang. Perilaku menyimpang tersebut ada yang berpengaruh terhadap dirinya sendiri dan ada yang berpengaruh pada orang lain. Perilaku menyimpang siswa dapat merugikan diri sendiri dan lingkungannya. Perilaku menyimpang pada siswa dapat menjadi masalah pada diri siswa saat ini dan pada saat yang akan datang. Dalam Pengaruh lingkungan sosial tidak dapat menjamin peserta didik untuk bisa mengembangkan minat dan bakat yang harus dimilikinya karena faktor nonsosial mempunyai pengaruh yang kuat. Lingkungan nonsosial yang kurang baik membuat anak malas dalam proses belajar sehingga kecenderungan peserta didik hanya diam dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru.

B.     Tujuan Penulisan
Tujuan penusilan makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh lingkungan lingkungan dalam psikologi terhadap peserta didik dan Usaha Mengatasi Dampak Negatif dari Lingkungan dalam psikologi terhadap peserta didik.














BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakikat Perkembangan Anak
Masa perkembangan anak adalah suatu periode yang sangat penting dan kritis dalam kehidupan manusia serta berpengaruh besar terhadap kehidupan selanjutnya. Proses tumbuh kembang anak tidak selalu berlangsung sesuai yang diharapkan. Peran keluarga, orang tua atau pengasuh anak sangat penting dalam proses tumbuh kembang dan pembentukan perilaku anak. Karena keluarga atau orang tua merupakan lingkungan yang paling dekat dan merupakan tempat yang memberikan pendidikan paling awal terhadap anak.
Secara teoritis dapat dipastikan bahwa pengasuhan yang baik akan berpengaruh baik pula terhadap perkembangan anak, dan begitu pula sebaliknya. Anak sebagai anugerah yang sangat besar dalam keluarga yang diberikan Allah untuk dididik dan dibesarkan dengan dibekali akhlak yang baik. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memilihkan lingkungan yang baik untuk anaknya. Mengajarkan anak untuk mengenal lingkungan sejak dini memang sangat penting, namun orang tua juga yang harus memilihkan lingkungan yang baik untuk anaknya. Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tumbuh kembang psikologi sosial dan kepribadian anak.
Setiap anak memiliki tingkah laku dan kepribadian yang berbeda-beda, selain lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat yang mempengaruhinya namun juga ada beberapa faktor yang lain, seperti faktor biologis dan genetik, faktor pola asuh, faktor lingkungan, faktor pendidikan, dan faktor pengalaman. Keadaan sosial, ekonomi, budaya dan spiritual orang tua juga sangat berpengaruh pada proses tumbuh kembang psikologi sosial seorang anak.
Perilaku yang tercermin dalam tindakan pelajar saat ini sangat dipengaruhi oleh peran lingkungan sebagai pembentuk pola pikir  psikologi kaum pelajar. Para pelajar melakukan berbagai tindakan didasari oleh pembentukan kepribadiaan yang di latar belakangi perkembangan lingkungan tempat bersosialisasinya walaupun pada intinya perkembangan psikologi sosial tergantung pada bagaimana pelajar memberikan respons terhadap lingkungan. Pembentukan Perilaku pada Anak ada beberapa bagian, diantaranya:
1.      Meniru (Imitasi)
Meniru merupakan cara yang efisien bagi anak-anak untuk mempelajari hal yang baru. Aksi meniru meningkat frekuensinya pada anak usia antara 1-3 tahun. Anak-anak akan mengembangkan sifat yang menambah penerimaan kelompok terhadap dirinya.

2.      Kesadaran Diri Pada Anak
Pada enam bulan terkahir dari tahun kedua anak mulai mulai menyadari milik, keadaan dan kemampuan mereka. Dengan Perkembangan dan Kepribadian Anak, kesadaran pada anak selanjutnya anak akan melakukan perilaku-perilaku yang telah didasari pengertiannya atau kesadarannya.

3.      Kebiasaan
Kegiatan yang dilakukan anak secara berulang-ulang akan menjadikan sebuah kebiasaan yang akan selalu dilakukan anak, baik dengan sadar atau disengaja maupun tidak sengaja.

B.     Pengaruh Lingkungan Terhadap Peserta Didik
Lingkungan merupakan segala sesuatu yang mengelilingi individu sepanjang hidupnya.  Dalam hidupnya manusia tentu akan melakukan interaksi dengan lingkungan secara terus-menerus sepanjang hidupnya. Sehingga lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang. Manusia dilahirkan dengan keadaan yang polos, kemudian tingkah lakunya dibentuk oleh lingkunganya. Secara garis besar lingkungan dibedakan menjadi dua yaitu:

a.      Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik merupakan lingkungan yang berupa alam, seperti keadaan tanah, musim dan sebagainya. Lingkungan fisik yang berbeda akan berpengaruh yang berbeda pula terhadap perkembangan individu serta menentukan bagaimana proses dan hasil belajar akan dicapai pelajar. Lingkungan fisik ini akan menetukan kenyamanan individu dalam melaksanakan aktivitas-aktivitasnya. Lingkungan fisik juga perlu mendapat perhatian, belajar dalam kondisi alam yang segar dan bersih selalu lebih efektif dari pada sebaliknya.
Demikian pula belajar pada pagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari karena pada pagi hari otak kita lebih fresh. Keadaan alam yang hiruk pikuk, terlalu ramai juga kurang kondusif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal. Sehingga keadaan alam yang baik dan kondusif ikut berperan serta menententukan pengaruhnya dalam optimalisasi belajar, keadaan alam yang buruk ikut memberikan efek yang buruk terhadap pelajar, keadaan alam yang baik ikut memberikan pengaruh positif pula bagi pelajar.

b.      Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial merupakan lingkungan masyarakat yang menyebabkan terjadinya interaksi antar individu satu dengan yang lainnya. Keadaan masyarakat sedikit banyak akan berpengaruh terhadap perkembangan sifat-sifat individu.
Lingkungan sosial dibedakan menjadi lingkungan sosial primer dan skunder. Lingkungan sosial primer yaitu lingkungan sosial yang didalamnya terjadi hubungan yang erat antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya. Karena diantara para anggota telah adanya hubungan yang erat, maka sudah tentu pengaruh dari lingkungan sosial ini akan lebih mendalam bila dibandingkan jika tidak adanya hubungan yang erat di antara para anggota. Lingkungan sosial sekunder yaitu lingkungan sosial dengan terjadinya hubungan atau interaksi sosialnya agak longgar anggota yang satu dengan yang lainnya kurang atau tidak saling mengenal. Karenanya maka pengaruh dari lingkungan sosial ini kurang mendalam bila dibandingkan dengan lingkungan sosial yang primer.
Sebagian ahli juga membagi faktor lingkungan yang mempengaruhi individu menjadi lingkungan person dan lingkungan non person. Lingkungan person meliputi orang tua, saudara, teman sepermainan, segala harapan, cita-cita dan segala perlakuan individu lain terhadap individu yang bersangkutan. Sedangkan lingkungan non person mencakup tempat tinggal atau rumah, sekolah, peralatan-peralatan yang digunakannya, batu, pohon dan lain-lain.

C.    Usaha Mengatasi Dampak Negatif dari Lingkungan dalam psikologi terhadap peserta didik
1.      Pengaruh Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan sebuah lingkungan yang pertama kali ditemui individu sejak ia lahir ke dunia. Lingkungan keluarga merupakan lembaga non formal yang di dalamnya terdiri dari ayah dan ibu, serta saudara-saudara sebagai keluarga inti, dan tidak jarang pula terdapat kakek, nenek, bibi dan paman. Lingkungan ini sangat berpengaruh terhadap individu, para psikolog (juga pendidik) menyatakan bahwa orang tua merupakan contoh (“model”) bagi anak-anaknya. Peranan keadaan keluarga terhadap perkembangan sosial anak-anak dalam hal ini pelajar tidak hanya terbatas pada situasi ekonominya atau pada keutuhan strukturnya saja. Cara-cara dan sikap-sikap anggota keluarga dalam pergaulannya memegang peranan yang cukup penting di dalamnya.
Hal ini bisa diterima apabila kita ingat bahwa keluarga itu sudah merupakan sebuah kelompok social dengan tujuan-tujuan, struktur, norma-norma, dinamika kelompok, termasuk cara-cara pemimpinannya, yang sangat mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota kelompok tersebut.
Sikap orangtua sebagai panutan dalam keluarga haruslah memberikan contoh yang baik, kebiasaan orangtua melihat televisi saat anaknya belajar akan sangat mengganggu konsentrasi anak dalam belajar, anak akan lebih meniru orangtuanya, orangtua yang sering keluar rumah akan menjadi kebiasaan ananknya pula sehingga anak tidak pernah belajar. Tingkat pendidikan orangtua juga mempengaruhi psikologis sosial anak, anak akan cebderung mengikuti rekam jejak pendidikan orangtuanya. Sehingga hal yang penting harus diperhatikan ialah sikap orang tua dalam mengontrol anak, memberikan perhatian bagi anak, dan memberikan contoh teladan yang baik bagi anak dalam kaitannya mendongkrak prestasi belajar anaknya, dan mendorong anaknya untuk mencapai tingkat pendidikan yang baik dan tinggi.
Pandangan yang sangat menghargai posisi dan peran keluarga sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang istimewa. Pandangan seperti ini sangat logis dan mudah dipahami karena beberapa alasan berikut ini:
·      Keluarga lazimnya merupakan, pihak yang paling awal memberikan banyak perlakuan kepada anak. Begitu anak lahir, lazimnya pihak keluargalah yang langsung menyambut dan memberikan layanan interaktif kepada anak.
·       Sebagian besar waktu anak lazimnya dihabiskan di lingkungan keluarga.
·       Karakteristik hubungan orang tua-anak berbeda dari hubungan anak dengan pihak-pihak lainnya (guru, teman, dan sebagainya ).
·      Interaksi kehidupan orang tua-anak di rumah bersifat “asli”, seadanya dan tidak dibuat-buat. 
Pengaruh keluarga dapat menurunkan kemampuan mental anak  dimulai dari dalam kandungan yaitu kurangnya gizi, terserang infeksi, mengkonsumsi obat-obatan tertentu, merokok, sering minum alkohol, atau kerap terpapar pada polusi, maka anaknya memiliki resiko mengalami ketidakmampuan dan ber-IQ rendah.  Selain itu lingkungan keluarga yang tidak sehat seperti adanya pertengkaran,   perselisihan dan kurangnya kasih sayang orang tua (perceraian), juga dapat mengurangi fungsi mental anak. Sehingga usaha untuk meningkatkan fungsi mental anak yaitu:
1)      Harus memberikan contoh yang baik bagi anak supaya anak dapat mengikuti apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
2)      Memberikan kasih sayang penuh tanpa membanding-bandingkan dengan anaknya lain.
3)      Memberikan dukungan penuh (pendekatan) terhadap bakat dan minat anak sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

2.      Pengaruh Lingkungan Sekolah
Pengaruh sekolah terhadap perkembangan peserta didim cukup besar. Namun pengaruh tersebut  hanya dilihat secara garis besar yang berlaku pada umumnya saja. Dalam menanamkan pengaruh perkembangan pribadi seseorang pada umumnya, pendidikan sekolah hanya dilihat dalam upaya mempertinggi tingkat  inteligensi peserta didik. Namun hendaknya sekolah itu tidak hanya merupakan lapangan tempat orang mempertajam tingkat intelegensi saja. Peraturan sekolah yang lemah dapat menyebabkan kemunduran belajar bagi para pelajar yang kurang retib dan disiplin dalam menjalankan tata tertib sekolah. Sekolah juga penting dalam pembentukan moral kaum pelajar, moral yang ditanamkan secara baik dalam sekolah akan menghasilkan perilaku yang baik pula bagi para pelajar, dengan begitu pelajar selalu mempertimbangkan nilai kebenaran dalam setiap tindakannya.
Pengaruh lingkungan sekolah dapat berdampak negatif terhadap perkembangan peserta didik ketika seorang guru tidak mengetahui karakter setiap siswanya. Selain itu, pengaruh teman juga sangat mempengarui dalam mencari jati diri sendiri. Dalam hal ini seorang guru harus bisa mengetahui karakter setiap siswa agar dapat mengetahui bakat dan minat dalam diri anak. Maka seorang guru harus interaksi dengan anak didiknya agar dapat mengontrol kenakalan anak didiknya antar teman. Sedangakan usaha untuk mengatasi dampak negatif dari teman yaitu harus pintar mengontrol diri supaya tidak terjerumus pada kenakalan remaja

3. Pengaruh Lingkungan  Masyarakat
Masyarakat merupakan tempat berkumpulnya berbagai kelompok dengan latar belakang yang berbeda-beda. Setiap kelompok memiliki berbagai kebiasaan dan perilaku yang berbeda dengan kelompok lainnya.Perbedaan latar belakang ini harus disikapi secara bijak. Dalam kaitannya bagi seorang peserta didik yang tinggal ditengah-tengah heterogenitas masyarakat, pelajar harus mampu bersikap sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku.
Tinggal dalam kondisi masyarakat yang tidak baik, anggota masyarakat yang sering mabuk-mabukan, gemar berjudi, dan tindakan-tindakan lain yang kurang sesuai dapat menjadikan seorang pelajar melakukan hal-hal yang kurang baik dan ikut masuk dalam arus yang negatif dengan meniru hal-hal buruk tersebut, selain itu mental belajar kaum pelajar akan mengendor dan tidak mengutamakan belajar sebagai tugas utama kaum pelajar. Oleh karena itu usaha untuk mengatasi dampak negatif yang tejadi pada lingkungan tersebut harus pihak keluarga yang selalu mendidik anak tersebut dengan baik.
                          
4.  Pengaruh Media Massa
Betapa besarnya peran dan pengaruh alat komunikasi massa, seperti buku, majalah, surat kabar, siaran radio, film, dan sebagainya terhadap perkembangan psikologi sosial bagi peserta didik. Media Massa sangat penting dalam penyampaian informasi-informasi terkini secara cepat dan instant, namun hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi adalah attitude-attitude yang terdapat dalam isi informasi tersebut.
Kehadiran media massa dalam menyampaikan informasi bagi kaum pelajar harus ditanggapi secara rasional dan melakukan filterisasi terhadap informasi yang diperoleh. Bagi pelajar yang tidak mampu menyaring hal-hal yang tidak baik, peserta didik akan meniru secara mentah-mentah seperti hal yang disajikan media massa.
Fenomena pelajar yang sekolah semaunya, sering membolos, mengenakan seragam yang tidak sopan, berperilaku seperti orang yang tidak berpendidikan, kerap terjadi akibat pengaruh media massa yang sangat besar. Usaha yang digunakan untuk mengatasi dampak negatif tersebut, oran tua lah yang berperan penting dalam megontrol anak sehingga seorang anak tidak salah dalam mendapatkan informasi dari media massa. Sehingga diharapkan pelajar mampu menyaring informasi yang didapatkan secara baik dan benar, guna membentuk pola pikir dan perilaku yang baik dan sesuai norma-norma yang ada.















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
               Lingkungan merupakan segala sesuatu yang mengelilingi individu sepanjang hidupnya.  Dalam hidupnya manusia tentu akan melakukan interaksi dengan lingkungan secara terus-menerus sepanjang hidupnya. Sehingga lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang. Manusia dilahirkan dengan keadaan yang polos, kemudian tingkah lakunya dibentuk oleh lingkunganya.
Perilaku yang tercermin dalam tindakan pelajar saat ini sangat dipengaruhi oleh peran lingkungan sebagai pembentuk pola pikir  psikologi kaum pelajar. Para pelajar melakukan berbagai tindakan didasari oleh pembentukan kepribadiaan yang di latar belakangi perkembangan lingkungan tempat bersosialisasinya walaupun pada intinya perkembangan psikologi sosial tergantung pada bagaimana pelajar memberikan respons terhadap lingkungan. Walaupun lingkungan tidak sepenuhnya membentuk pola perilaku dan pola berpikir individu karena setiap individu berbeda pula dalam memberikan respons atau tanggapan terhadap stimulus yang diberikan lingkungan, namun peran dan pengaruh lingkungan turut serta memegang peranan yang sangat besar bagi individu dalam berperilaku dan berpikir. 

B.     Saran
Adapun saran dari penyusun dalam  perkembangan psikologi dari peserta didik hendaknya pengaruh lingkungan sekitar menjadi perhatian khusus dari seluruh pihak, baik dari keluarga, pendidik maupun masyarakat. Hal ini demi kelangsungan dan taraf hidup peserta didik yang akan datang untuk menjadi insan yang bermanfaat untuk keluarga, Negara maupun lingkungan disekitarnya.


DAFTAR PUSTAKA

Muhibbin Syah. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA
Walgito, Bimo.  1980. Psikologi  Sosial  (Suatu Pengantar). Edisi Revisi. Yogyakarta: Yayasan    Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.

dikutip dari :

Blog Asik

E-Learning sebagai media dalam dunia pendidikan dan Alternatif Pemanfaatan Pembelajaran Jarak Jauh

Sejarah IT dan Internet tidak dapat dilepaskan dari bidang pendidikan. Adanya Internet membuka sumber informasi yang tadinya susa...